Sabtu, Agustus 25, 2012

30 Hari, Akhirnya Aku Jatuh Cinta

"Bapak biasa saja dalam mengajar, bapak sepertinya belum akrab dengan anak-anak", (Haura, 2012)
"Mengajar dengan baik kasihan anak orang", (Asesor PPM, 2012)

Itulah dua kalimat yang selalu memotivasiku untuk memberikan yang terbaik saat mengajar di lokasi penugasan dari Yayasan Idonesia Mengajar. Kalimat tersebut kudapatkan ketika sedang melakukan Praktek Pengalaman Mengajar (PPM) di salah satu SD di Purwakarta sewaktu masih pelatihan Intensif Indonesia Mengajar beberapa bulan yang lalu. Kalimat pertama aku dapatkan dari seorang murid kelas dua, sedangkan yang satunya dari asesor kami saat itu.

Kini sudah sebulan lebih aku berinteraksi dengan wajah-wajah polos Desa Oenitas, setiap hari kulihat mereka dengan wajah ceria penuh harap untuk sesuatu yang baru. Enam belas mutiara yang masih muda, memiliki karakter yang berbeda, lirikan mata yang khas, senyum malu-malu yang terkadang mereka perlihatkan kepadaku, ataupun sapaan "Selamat pagi pak.. !!!" yang aku dapatkan jika bertemu mereka dijalan ketika ke sekolah ataupun pulang sekolah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut hampir berulang setiap harinya, dan terkadang dibumbui tingkah mereka yang sangat ekspresif, hiperaktif, dan punya imajinasi yang sangat luas tentang sebuah pelajaran.

Mereka masih sulit berdamai dengan huruf p, d dan b yang sepertinya berputar-putar di kepala mereka hingga belum mampu membedakannya. Seharian aku biasanya tersenyum puas dengan apa yang mereka capai hari itu, kadangkala aku juga tak sadar mengeluarkan bulir-bulir bening di sudut mata karena melihat mereka kesulitan menyelami samudera ilmu yang begitu luas. Setelah 30 Hari, Akhirnya aku jatuh cinta. Mungkin terdengar seperti sebuah judul film.

Akhirnya aku yakin, jika aku benar-benar jatuh cinta pada wajah-wajah polos yang selalu memberiku energi ekstra ketika sedang lelah atau sedang suntuk. Ya... Energi yang mereka berikan melebihi minuman berenergi merek apapun... !!!!. Kini mereka selalu menginspirasiku untuk membuat media pembelajaran yang unik-unik, membuat administrasi wali kelas yang sangat banyak, ataupun belajar menjadi guru yang baik. Saat ini aku sudah mulai membantu mereka membangun mimpi-mimpi dan memberi semangat untuk meraih ataupun melampauinya. Menjadi guru ternyata sangat nikmat, ada kepuasan tersendiri jika kita mengajar dengan hati. Melihat mereka perlahan-lahan membaca dengan hati dan menulis dengan jiwa, Adalah sesuatu yang tak terhingga untuk di nilai dengan materi.

Baca Selengkapnya......

Jumat, Agustus 24, 2012

Hari Pertama di Kelas (Demokrasi Mutiara Muda)

Hari ini senin 23 Juli 2012, setelah libur awal ramdhan selama empat hari akhirnya aku memulai juga aktivitas pertamaku sebagai kelas III b di SD Inpres Oenitas, Kecamatan Rote barat. Beberapa hari sebelumnya, aku memang sudah ke sekolah namun waktu itu aku lebih banyak berinteraksi dengan kawan-kawan guru. Pernah dalam satu hari aku cuma mengobrol di kantor dengan kawan guru tentang aktifitas kurikuler dan ekstrakurikuler yang biasa dilaksanakan di sekolah. Ataupun sekedar melihat-lihat aktifitas anak-anak di sekolah, saat Ibu Citra (PM2) masih ada aku biasanya memperhatikan ketika ia sedang mengajar di dalam kelas. Aku yang tidak terbiasa dan kurang mampu berinteraksi dengan anak-anak, memang lebih banyak mengamati dan menerka-nerka apa yang mereka (siswa SD Inpres Oenitas) senangi.

Hari ini, aku tiba di sekolah pukul 07.30. Pikirku aku terlambat, ternyata pintu ruangan di sekolah belum juga terbuka karena pak kepala sekolah telat datang. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya beliau datang dengan wajah yang ceria dengan potongan rambut baru. Ternyata pak Ay (begitu iya biasanya di sapa) hari ini berulang tahun, jadilah pagi ini ada perayaan kecil-kecilan di sekolah. Namun karena aku puasa, jadinya cuma mengucapkan selamat ulang tahun ke beliau kemudian aku bergeser ke ruangan kelas III b untuk memulai aktifitas tahun ajaran baru 2012/2013.

Sambil membawa kunci kelas, siswaku mulai antri di depan pintu dan mereka kelihatan tak sabar untuk memasuki ruang kelas baru mereka. Setelah terbuka merekapun mulai berebutan tempat duduk, ada yang duduk bertiga ada yang sendiri, jadilah ruangan seperti pasar yang sedang ramai transakasi. Aku hanya senyum dan menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam dalam hati, "ok, setahun ke depan aku akan bersama kalian, semoga kalian bisa jadi anak yang terbaik dan menjadi orang-orang sukses dalam hidup di masa yang akan datang".

Setelah menertibkan tempat duduk mereka, aku mulai mengeluarkan poster-poster bergambar pahlawan kemerdekaan negeri ini. Kemudian kumintai pendapat mereka, "poster-poster ini di tempel di mana anak-anak?" kembali suara mereka bersahut-sahutan ada yang bilang di belakang pak... !!!, di depan... !!!! Di sini saja pak..... !!! (sambil menunjuk dinding yang ada di sampingnya). "Ok kalau begitu kalian diam dulu semua, bapak bingung mau di tempel di mana jadinya" ucapku dengan nada yang agak tegas. Satu persatu dari mereka kemudian kumintai pendapat tentang alasan mereka, namun ternyata jawaban agar gambar tersebut bisa sering di lihat menjadi jawaban mayoritas. "kalau begitu kita bagi dua sebagian di tempel di depan dan sebagian lagi di belakang?, bagaimana?" tanyaku. "Iyyyaaaaaa paaakkkk.... !!!!" jawab mereka dengan kompak.

Akhirnya, mutiara-mutiara muda yang berjumlah 16 mulai aktif dan menempelkan gambar pahlawan dengan sebebas-bebasnya di kedua dinding ruangan yang telah ditentukan. Melihat mereka sibuk, aku mulai berpikir "apa lagi ya, yang harus aku lakukan?", ya hari ini aku ke sekolah tanpa persiapan untuk mengajar. Setelah memaksa saraf-saraf otak berpikir akhirnya ku temukan kegiatan selanjutnya, "bagaimana? Sudah beres ko sonde?" tanyaku dengan logat kupang yang kupikir masih aneh. Ternyata ada beberapa anak yang masih belum selesai menempelkan gambar, setelah ku beri tambahan waktu 10 menit kegiatan mereka selesai juga. "mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk membebaskan Indonesia tercinta dari penjajahan Belanda dan Jepang, suatu saat kalian juga akan jadi pahlawan bagi negeri ini jika kalian rajin belajar" ucapku untuk memotivasi mereka (walaupun ku tahu mungkin sebagian besar dari mereka belum paham apa yang ku ucapkan tadi).

Kegiatan kemudian aku lanjutkan dengan pemiihan koordinator kelas, "baik sekarang bapak tanya, siapa yang mau jadi koordinator kelas IIIb?". Dengan waktu yang hampir bersamaan ada 6 anak yang mengangkat tangan, "wow.. Kelas ini ternyata memiliki banyak calon pemimpi(n)" ucapku dengan antusias. "baik kalau begitu Feri, Noldi, Adrianus, Maros, Refin, dan Beni silahkan maju ke depan", satu persatu kemudian mereka ku minta untuk meperkenalkan diri dan menjawab pertanyaan apa tugas dari seorang koordinator kelas. Jawaban mereka, perintah menyapu, membersihkan kelas, menyapu, mengatur teman, menolong teman,dan banyak lagi kata-kata ajaib yang mereka lontarkan.

Setelah sesi perkenalan diri dan mungkin bisa di bilang penyampaian visi mereka, maka aku mencoba membuka sesi musyawarah untuk mufakat memilih satu dari enam orang tersebut. Tetapi ternyata, di kelas ini belum mampu mufakat. "ok, kalau begitu kita memilih langsung koordinator kelas, jika bapak menyebutkan nama salah satu teman kalian silahkan angkat tangan jika kalian menginginkan dia menjadi koordinator, ingat satu orang hanya boleh mengangkat tangan sekali" ucapku sambil mengarahkan prosesi demokrasi di kelas ini. Setelah satu persatu dari enam calon ku sebutkan akhirnya Maros yang satu-satunya calon perempuan terpilih dengan jumlah suara 6, kemudian di susul feri dengan jumlah suara 4.

Akhirnya pesta demokrasi di kelas ini selesai juga, namun bedanya dengan yang terjadi di luar sana, anak-anak di sini pastinya belum memiliki pemahaman tentang kepentingan politik, golongan, ataupun kelompok masing-masing. Mereka siap menjadi pemimpin karena benar-benar ingin mengemban amanah, melakukan yang terbaik untuk kepentingan bersama. Setelah pemilihan, aku persilahkan mereka untuk istirahat selama 30 menit. Tiba-tiba, 15 menit kemudian Feri dan Christo masuk ke kelas dengan nafas yang terengah-engah. "Bapak, Noldi pukul Maros.... !!! Dong (mereka) ada di belakang perpustakaan" ucap christo dengan suara yang terbata-bata. "suruh dong ke sini" perintahku ke mereka, tak lama kemudian merekapun berdua sudah berada di kelas diikuti dengan teman-temannya yang lain. Pintu kelas kemudian ku tutup dan anak-anak yang lain kupersilahkan duduk kecuali mereka berdua. "Bosong (kalian) berdua buat hal (masalah) apa?" tanyaku, tiba-tiba anak yang lain nyeletuk "Noldi pukul Maros pak, karena kalah ketua kelas" (Noldi dikalahkan waktu pemilihan ketua kelas, red.).

Setelah ku investigasi, Noldi memang memukul maros karena iya kalah saat pemilihan tadi. Mereka berdua dan teman-temannya ku nasehati tentang pentingnya saling menghargai dan bersikap ksatria dalam menerima kekalahan. Setelah salaman, merekapun kembali bermain menikmati terik matahari halaman sekolah yang kering berdebu.

Sambil menatap mereka, akupun bertanya dalam hati, apakah anak-anak ini sudah sering melihat pesta demokrasi yang hampir terjadi setiap hari di negeri ini?. Dimana sebagian besar berakhir dengan kekacauan dan menyibukkan lembaga-lembaga hukum. Mungkinkah mereka menirunya?, dengan menggunakan cara-cara kasar jika kalah dalam sebuah pemilihan? Ataukah memang watak bangsa ini yang baru muncul setelah di suguhi sebuah era yang di sebut reformasi ?. Ataukah kalian masih anak-anak yang memiliki kemerdekaan untuk berbuat apa saja?.

Tapi dari mana, mereka belajar untuk berbuat seperti itu? Mereka memang masih muda (kecil), mungkin saja salah satu dari mereka akan ada yang memilih karir di jalur politik kelak, semoga saja sejak kecil dipertontonkan demokrasi yang sehat di negeri ini. Satu tahun aku akan berusaha untuk memoles mutiara-mutiara mudaku, semoga saja bapak gurumu ini tidak membuat bias dalam memahami sesuatu, hingga kelak menjadi mutiara yang bersinar dari pagar selatan Bumi Pertiwi.

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Juli 21, 2012

Harapan (dari) Pagar Selatan

Tu'U merupakan budaya yang turun temurun telah diwariskan oleh suku-suku yang ada di kabupaten Rote Ndao. Suku di Rote Ndao sendiri berjumlah 19 yang pada awalnya berjumlah 20 (cerita pembantaian satu suku ini belum lengkap aku dapatkan). Pada praktiknya Tu'U merupakan salah satu kegiatan riil gotong royong di tengah masyarakat, gotong royong disini bentuknya dalam hal pelaksanaan pesta (pesta adat, pernikahan, bahkan kematianpun disebut pesta di sini). Hari ini (8 Juli 2012) saya ngobrol dengan bapak angkatku (namanya Yusuf Boboy), karena pagi ini bapak terlihat tidak seperti biasanya. Dia tampak kurang semangat dan agak berat menyelesaikan pekerjaan membuat ranjang dan pintu pesanan dari orang. Ketika ku hampiri dan memulai obrolan ternyata yang membuatnya gelisah adalah banyaknya agenda Tu'U akhir-akhir ini dalam keluarga bapak.
Tu'U sendiri dilakukan oleh kerabat yang masih punya hubungan darah, saya juga tidak mengetahui secara mendalam sampai mana batasan silsilah dalam keluarga yang di undang atau dilibatkan dalam prosesi Tu'U. Bapak memulai dengan perkataan "Tu'U ini lingkaran setan", aku langsung terperanjat kaget dan sedikit mengerutkan dahi. "kenapa bapak bilang (ngomong) seperti itu?" tanyaku untuk mengetahui lebih jelas. "Karena Tu'U ini su (sudah) banyak sonde (tidak) digunakan dengan baik sama orang". Kemudian bapak menjelaskan tentang beberapa kasus yang memanfaatkan budaya itu menjadi sesuatu yang menguntungkan secara pribadi (keluarga).
Sejak revitalisasi budaya Tu'U untuk pendidikan digalakkan pemerintah medio 2008/2009, perlahan-lahan masyarakat rote sudah mulai sadar dan mengurangi Tu'U untuk pesta pora. Selain karena aku lihat di spanduk-spanduk yang berseliweran di pinggir jalan, juga ketika cerita dengan bapak-bapak yang ada di sini (Desa Oenitas) mereka juga mulai memahami pentingnya investasi di bidang pendidikan. Menurut Tonce (Kawan Guru yang Alumni UNESA), cara pandang masyarakat saat ini sudah jauh berubah jika dibandingkan ketika iya masih SD dulu (sekitar tahun 1994-2000). Dulu ketika berangkat sekolah, dia dan kawan-kawannya sering di teriaki oleh orang-orang tua yang sedang iris lontar ¹ "hei... Lu (kamu) mau jadi apa ? Ke Sekolah bekeng (bikin/membuat) abis do'i sa (menghabiskan uang saja)". Hal tersebut membuktikan 18 tahun lalu pulau ini masih jauh dari pendidikan jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di negeri ini.
Namun siapa sangka, seiring waktu berjalan orang-orang di Desa Oenitas mulai berubah pikiran. Hal ini terjadi ketika tahun 2003-2005 ada beberapa anak di sini yang berani merantau ke Kupang bukan untuk mencari pekerjaan seperti kebanyakan pemuda di sini, tetapi dia merantau untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi di pulau seberang. Apatah lagi 4 tahun kemudian mereka sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan baru² di negeri orang, ada yang jadi pegawai bank, polisi, guru, dan PNS. Sejak itu masyarakat di sini sudah mulai berani untuk investasi di bidang pendidikan, mereka percaya jika pendidikan akan merubah nasib generasi mereka menjadi lebih baik. Hal tersebut menurut Pak Tonce bisa di lihat dengan kalimat yang sering dilontarkan sebagian besar orang tua jika melihat anaknya malas ke sekolah. Mereka sering mengatakan "kalau lu malas ke sekolah lu mau jadi pemanjat lontar, na ???", apatah lagi medio 2009 kemarin dilakukan deklarasi untuk revitalisasi budaya (dalam hal ini Tu'U).
Deklarasi tersebut di hadiri oleh Dewan Adat Rote Ndao yang di ketuai oleh bapak John Ndolu, seluruh camat, kepala desa, tetua-tetua adat, dan pejabat birokrasi (Bupati dan Jajarannya), untuk mendeklarasikan "Tu'U untuk pendidikan". Dimana dalam pengejawantahannya di masyarakat dilakukan dalam bentuk patungan (dalam bentuk uang) keluarga, untuk membiayai pendidikan anak-anaknya yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tu'U Pendidikan sendiri hanya dilakukan satu kali untuk satu anak, olehnya itu biasanya keluarga memperhatikan betul kapan momentum yang tepat untuk melaksanakan upacara ini. Namun sayangnya menurut bapak, kadang ada orang tua yang memaksakan dan memimilih momentum yang kurang tepat sehingga dana hasil Tu'U sepenuhnya tidak digunakan dengan tepat. Entah sang anak tersebut berhenti sekolah atau kadang-kadang disalahgunakan oleh orang tua itu sendiri. Bukan resah dengan budayanya tapi bapak merasa kurang puas dengan oknum-oknum yang mulai memanfaatkan budaya untuk kepentingan pribadi.
Namun terlepas dari itu semua, Rote Ndao secara umum sepertinya mulai menyadari tentang arti pentingnya pendidikan. Mereka mulai sadar, jika sudah saatnya mereka merantau ke negeri nun jauh untuk menyerap ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Adat dan budaya pun sudah mereka sesuaikan dengan kebutuhan zaman, walaupun sepertinya butuh proses panjang dan pembelajaran yang tak kenal lelah agar permasalahan penerapan tak mengalami pembiasan. Selain adat dan budaya, dapur (sekolah) mereka juga mulai berbenah, mulai menata dan menambal kekurangan di sana sini. Semoga dengan hadirnya Indonesia Mengajar selama 5 tahun di Bumi Ti'I Langga dapat mempercepat kemajuan kualitas pendidikan. Satu tahun telah di lalui Pengajar Muda Angkatan II di sini, satu anak tangga telah terlewati. Dimana sepuluh anak muda tersebut telah memperkenalkan dengan nyata Indonesia Mengajar dengan masyarakat Rote Ndao.
Hal itu terbukti dengan pernyataan salah satu LSM yang telah bergerak di daerah ini selama kurang lebih 15 tahun, mereka mengatakan "IM melakukan pendekatan yang berbeda dengan kami, kalian lebih mengenal langsung dan dapat memastikan apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat". Sepuluh anak muda telah membuat pondasi yang kokoh, bagi generasi kedua Indonesia Mengajar yang berjumlah sembilan orang. Semoga setahun di sini dapat berbuat yang terbaik dan mempermudah pencapaian cita-cita pendidikan Ibu Pertiwi.
Note:
1. Iris Lontar : Mengambil sari (nira) pohon lontar untuk di masak dan dijadikan gula air (gula merah cair) atau gula lempeng (gula merah bentuknya pipih dengan diameter 5-8 cm).
2. Karena selama berpuluh-puluh tahun di Oenitas pekerjaan yang mereka tahu adalah panjat pohon Lontar, Bercocok Tanam, atau mengembala domba, sapi atau Kerbau). Sangat sedikit yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca Selengkapnya......

Minggu, Juni 10, 2012

PEMAKNAAN PROSES, BUKAN PADA HASIL

“Kebersamaan selalu menghasilkan banyak interaksi, dan dari interaksi biasanya akan menghasilkan banyak interpretasi, dari interpretasi yang beragam akan menimbulkan jutaan pemaknaan”

“Kumpulkan makna yang kita dapatkan, silahkan di ramu dengan resep pribadi dan menghasilkan produk terbaik, yang siap menaklukkan badai terganas, pendakian yang paling terjal, dan menyelami palung terdalam di lokasi tempat kita berkontemplasi”

“Mungkin disanalah kita akan berdamai dengan hati, waktu, dan tempat”

“Sebelum perpisahan tiba, tumpahkanlah dengan elegan ketidaknyamananmu dan kecintaanmu pada dia, agar tak memberatkan langkah ke urat nadi negeri ini”

Jatiluhur, 4 Juni 2012 (23.45 WIB)


Setelah 6 minggu bersama, kini memasuki masa-masa akhir dari Pelatihan Intensif Pengajar Muda angkatan 4. Begitu banyak kenangan yang terukir di barak tentunya. Dari yang biasa sampai luar biasa, dari gagal sampai berhasil, dari nol sampai tak hingga. Mengikuti pelatihan intensif ini sungguh sangat luar biasa bagi saya, begitu banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan. Semoga nantinya bisa aku urai satu persatu saat di lokasi penempatan (Kabupaten Rote Ndao, Kecamatan Rote Barat, Desa Oenitas), saya diberikan kesempatan untuk mengajar dan belajar di SD Inpres Oenitas.

Selama Training, kami benar-benar merasakan keakraban yang sangat erat. Berat rasanya melewati hari-hari menjelang deployment. Disaat keakraban lagi hangat-hangatnya, kami diharuskan berpisah ke daerah penempatan masing-masing untuk melanjutkan karya Pengajar Muda angkatan 2. Namun saya sudah siap apapun dan bagaimana kondisinya, karena saya yakin di urat nadi negeri pasti lebih nikmat . Saya membayangkan senyum hangat tunas negeri ini, hangatnya alam yang masih murni, dan tantangan yang selalu ada pastinya. Semoga cita, cinta, dan harapan selama di sana bisa terlaksana dengan lancar, mohon doanya.......

*Saat tulisan ini terbit, penulis sedang mengembara di hutan Situ Lembang bersama 71 pengajar muda... mohon doanya lagi semoga kami di beri kemudahan dan kesehatan semuanya....

Salam Pengabdian,

Baca Selengkapnya......

Minggu, Juni 03, 2012

KENAPA AKU MEMILIH JADI PENGAJAR MUDA ?

Berniat baiklah karena niat itu dari bagian termurni manusia, yaitu Hati

Secara biologis fungsi hati yang aku pahami adalah untuk menetralisir racun dan bekerja untuk memurnikan cairan yang ada pada tubuh manusia. olehnya itu ketika hati seseorang telah rusak, maka kemungkinan untuk hidup semakin kecil. Kita sangat dianjurkan oleh pakar kesehatan untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi agar kita tak mengalami gangguan hati yang kronis. Dalam islam kita juga dijarkan untuk menjaga kemurnian hati dari penyakit hati, seperti dengki, hasud, ria, angkuh dan lain-lain. Karena orang yang memiliki penyakit hati yang kronis tidak menutup kemungkinan akan mengalami gangguan jiwa.

Medio Desember 2011, waktu itu aku hanya iseng-iseng mengisi aplikasi Gerakan Indonesia Mengajar. Waktu itupun ku isi menjelang last minute, di sela-sela melayani pengunjung di cafe saya Ba-A Rumah Pisang namanya. Sebenarnya di perekrutan Pengajar Muda angkatan kedua saya sudah mulai mengisi aplikasi pendaftaran namun di kolom tahun lulus SAYA berhenti mengisinya, karena saat itu saya memang belum sarjana . Dan sejak gagal mengisi aplikasi itu saya juga sudah melupakan untuk menjadi pengajar muda, saya hanya fokus pada penyelesaian studi dan membesarkan usaha yang sudah saya rintis sejak 2010 bersama kawan saya. Apatah lagi menjelang sarjana usaha saya yang awalnya hanya sablon kaos, saat itu mulai memiliki modal untuk membuka lagi unit usaha baru. Maka lahirlah Ba-A Rumah Pisang, yang ternyata lebih dikenal jika dibandingkan dengan saudara tuanya (Ba-A Clothing).

Oktober 2011, alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan gelar sarjana setelah lima tahun dua bulan. Di bulan yang sama pula, berbagai tawaran pekerjaan yang sesuai bidang ilmu saya (Teknik Sipil) mulai berdatangan seperti pengawas harian sampai perencanaan proyek. Tetapi saat itu kondisi usaha belum stabil, jadi tak satupun tawaran aku terima. Kecuali, tawaran dari dosenku yang bisa ku bilang bukan tawaran kerja profesional, tapi beliau meminta tolong untuk di bantu dalam hal pengawasan proyek bantuan rumah nelayan di daerah asalku di Bulukumba. Sehingga saat itu aku benar-benar lupa dengan pendaftaran Indonesia Mengajar. 

“Poster Indonesia Mengajar”

Entah apa maksud adik saya (Tismi Dipalaya) membawa pulang poster IM sebanyak dua lembar yang juga ku tak tahu di mana ia dapatkan. Di poster itu terpampang gambar SOEKARNO yang sedang mengajar di alun-alun keraton Jogjakarta dan yang satunya gambar pengajar muda bersama siswanya di Halmahera Selatan. Poster itupun hanya ku lihat sekilas, namun kalimat “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” kembali mengingatkanku akan aplikasi yang dulu pernah ku isi. Namun lagi-lagi aku belum tertarik, bahkan pernah sekali aku berkata kepada kawanku “masih banyak cara lain untuk mengabdikan diri pada bumi pertiwi. Misalnya saja menjadi pengusaha yang menjadi asset bangsa”.

Di lain waktu, saya kembali bertemu dengan kawan saya sewaktu SMU yang mempertanyakan kegiatan saya akhir-akhir ini setelah sarjana. Dengan mantab ku jawab jika sekarang saya menjadi tukang sablon dan kasir di Ba-A Group :D. Di tengah-tengah mengobrol dia menyampaikan jika pendaftaran Indonesia Mengajar telah di Buka dan Pak Anies Baswedan akan berkunjung ke kampus kami (Universitas Negeri Makassar) dalam waktu dekat. Dia bahkan menyarankan untuk mengisi aplikasi secepatnya dan menghadiri kuliah umum yang akan dibawakan oleh pak Anies nantinya. Waktu itu saya hanya mengiyakan di mulut, tetapi di hatiku belum sepenuhnya.

Waktu terus berjalan, akupun tak menghadiri kuliah umum yang dibawakan beliau. Namun kawan-kawan yang aku kenal di kampus, ternyata terus menceritakan kegiatan kuliah umum yang dibawakan oleh beliau. Termasuk kakanda saya di LPM Penalaran yang menjadi moderator ketika acara berlangsung. Ditambah lagi kawan saya yang sengaja menyempatkan mampir di Rumah Pisang untuk berdiskusi tentang materi kuliah umum dan khususnya tentang Indonesia Mengajar. Saya masih ingat menjelang dia pulang, lagi-lagi dia menganjurkan “isimi cepat, mantap itu program”.

Selain dari orang-orang di atas, kawan saya yang sudah menjadi pengajar muda angkatan II juga menganjurkan untuk bergabung menjadi pengajar muda. Katanya waktu itu “kalau kayak kau cina pasti lolosko, betulanka.....!!!!”. Belum lagi saudara saya di Jurusan dan di Penalaran yang ternyata diam-diam mendaftar dan dilengkapi dengan video profil diri, semakin membuatku panas. Dan mungkin dulunya secara tidak sadar kami kadang-kadang bersaing, ya jika me-review yang lalu-lalu grafiknya mungkin seimbang (versi saya). Tak bisa juga aku pungkiri jika sifat “keakuanku” kadang-kadang muncul jika mengingat-ingat apa yang telah aku bagi.

Akhirnya, 17 Desember 2011 tepatnya pukul 20.30 wita dengan tujuan untuk membuktikan kalo saya pernah mendaftar kembali aku buka www.indonesiamengajar.org. Dimana waktu itu bersamaan pula dengan waktu jaga saya di Rumah Pisang, jadilah pemikiranku terbagi. Sebagian konsentrasi melayani pesanan pengunjung, sebagian lagi konsentrasi mengisi aplikasi. Dan kurang lima menit pukul duabelas malam aplikasiku baru selesai terkirim, karena ternyata yang harus di isi tak sependek yang aku bayangkan. Setelah mengisi, paling tidak kawan-kawanku yang sering menanyakan bisa aku jawab “iya sudahmi, ko iya?”. Mau lulus atau tidak itu persoalan di belakang.

Berdialog dengan Hati dan Mata

Setelah mendaftar barulah saya berkontemplasi tentang hidup, tujuan hidup, pengalaman pribadi, dan cita-cita. Kembali mengingat dan menghubungkan setiap peristiwa yang telah terlewati, namun tak kunjung kutemukan jawaban dari pertanyaan “untuk apa hidupmu?”. Jadilah aku semakin ragu pada diriku sendiri, jangan-jangan saya mendaftar IM bukan untuk pengabdian tetapi hanya untuk mendapatkan prestise dari orang-orang yang mengenalku. Semakin lama, kotemplasi yang kulakukan ternyata menimbulkan banyak pertanyaan yang semakin ribet untuk ku jawab.

Hingga pada suatu waktu, aku berdiskusi dengan sahabatku tentang fenomena yang terjadi di dunia, hingga tentang keyakinan dan perubahan pada dirinya yang bisa saya katakan perubahan yang begitu frontal. Diskusi yang berlangsung sampai pukul empat dini hari itu ternyata mampu merangkum perjalanan hidup selama dua puluh tahun. Dari dia saya banyak mengetahui hal-hal baru tentang hidup ini, dan dari hasil diskusi itu pula dapat aku simpulkan jika saya butuh spasi dari jutaan waktu yang telah terlewati. Selama ini, saya hanya mengejar apa yang dikendalikan oleh nafsu, tak pernah sekalipun ku temui tentang ketenteraman bathin. Dan aku yakin di lokasi penempatan nanti, jika pengetahuan yang kumiliki dikombinasikan dengan lingkungan yang murni akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa bagi diriku secara pribadi dan bagi mereka yang berinteraksi dengan saya.

Di Daerah penempatan itulah nantinya, insyaallah bisa ku jawab pertanyaan besar yang selalu menggangguku. Dan semoga di sana kutemukan cahaya spiritual yang selama ini selalu ku cari dan kurindukan, untuk mencairkan kebekuanku dihadapan sang pencipta. Semoga apa yang aku putuskan, bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Seperti tag line Indonesia Mengajar: 

SETAHUN MENGAJAR, SEUMUR HIDUP MENGINSPIRASI

*Namun perlu kawan kawan ingat, Menjadi pengajar muda adalah pilihanku... di tempat lain masih banyak pilihan lain yang bisa kita pilih untuk dijadikan jalur pengabdian untuk negeri, dan menurut saya yang paling minimal adalah memaksimalkan potensi diri, berbuat positif dan banyak berbagi kepada orang lain....

wassalam, salam pengabdian..... 

Baca Selengkapnya......